BANYAK masyarakat Indonesia yang tentu sudah tidak asing dengan penggunaan alat kontrasepsi. Namun tidak sedikit juga yang hanya sekedar mengetahui tanpa ada keinginan untuk ikut berpartisipasi.
Hampir 97 persen warga Indonesia sudah hapal dengan istilah keluarga berencana atau KB. Sayangnya, dari keseluruhan masyarakat kita yang mengetahui tentang KB, hanya ada sekitar 57 persen yang menggunakan alat kontrasepsi sebagai bentuk partisipasi dalam program KB.
“Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat kita enggan menggunakan alat kontrasepsi, di antaranya, takut dengan efek samping KB, seperti mual atau pusing. Padahal, itu hanya reaksi dari pemberian hormon pada tubuh. Lalu, adanya budaya yang kesulitan menerima penggunaan alat kontrasepsi, hal-hal seperti ini yang membuat masyarakat kita masih banyak yang hanya sekedar tahu tentang KB,” jelas Dr. Sudibyo Alimoeso, MA, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN saat berbincang secara eksklusif dengan Okezone di Kantor BKKN Pusat, Halim Perdanakusuma, Jakarta, baru-baru ini.
Selain kedua hal tersebut, Dr. Sudibyo juga menambahkan, masyarakat kita sering mencari-cari alat kontrasepsi yang sesuai dengan keinginannya, padahal alat tersebut belum tentu cocok dengan tubuhnya. “Penggunaan KB tidak bisa dipaksakan. Harus ada peningkatan pengetahuan dan perilaku dari masyarakat, sehingga bisa berpartisipasi dalam program KB dengan nyaman,” tutupnya.
sumber
INI ALASAN ORANG INDONESIA OGAH IKUTAN KB
5 Sesalan yang sering dialami orang sekarat
Bronnie Ware adalah seorang suster yang bekerja dalam perawatan paliatif di Australia selama bertahun-tahun. Ia bertugas merawat pasien sekarat di rumah selama 3-12 minggu terakhir kehidupan pasien.
Selama menjalani profesinya ini, Ware mencatat ada 5 hal yang paling disesali pasien di akhir hayatnya. Kesemua penyesalan pasiennnya ini ditulis oleh Ware menjadi sebuah buku berjudul 'The Top Five Regrets of the Dying: A Life Transformed by the Dearly Departing'.
Seperti dilansir Telegraph, Senin (12/11/2012), kelima penyesalan yang paling sering ditemui Ware yaitu:
1. Tidak jujur pada diri sendiri
Ini merupakan penyesalan yang paling banyak ditemui. Ketika menyadari hidupnya hampir berakhir, orang lebih mudah melihat seberapa banyak impiannya yang telah tercapai.
"Kebanyakan orang tidak menghargai impiannya dan baru menyadari itu adalah akibat dari keputusan yang telah ia pilih atau tidak ia pilih. Kebanyakan orang yang tak menyadari bahwa kesehatan membawa kebebasan, sampai akhirnya mereka tak lagi memilikinya," kata Ware.
2 .Bekerja terlalu keras
Penyesalan ini berasal dari seluruh pasien pria yang dirawat oleh Ware. Mereka menyesal menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja sehingga tak menyediakan cukup waktu bersama anak-anak dan pasangan yang dikasihi.
"Wanita juga mengungkapkan penyesalan ini. Tetapi karena kebanyakan pasien saya berasal dari generasi tua, jadi belum banyak pasien wanita yang menjadi pencari nafkah," kata Ware.
3. Tak berani mengungkapkan perasaan
"Banyak orang menyimpan perasaan untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Akibatnya, orang ini menghabiskan umurnya menjadi orang yang biasa-biasa saja dan tidak pernah menjadi orang yang diyakini mampu melakukan banyak hal. Banyak orang seperti ini kemudian merasakan kepahitan dan kebencian," kata Ware.
4. Putus hubungan dengan teman lama
Kebanyakan orang seringkali tidak menyadari betapa berharganya teman-teman lama sampai seminggu menjelang kematiannya. Waktu yang singkat ini jelas tidak memungkinkan untuk melacak keberadaan kawan-kawan lama.
"Banyak yang terjebak dalam kehidupannya sendiri dan membiarkan persahabatan yang berharga lewat begitu saja selama bertahun-tahun. Ada banyak penyesalan yang mendalam mengenai kurangnya waktu dan upaya dalam menjaga persahabatan. Semua orang merindukan teman-temannya ketika sekarat," kata Ware.
5. Yidak membuat diri sendiri jadi lebih bahagia
Hal ini cukup mengejutkan karena ternyata ternyata banyak orang yang menyambut ajal baru menyadari hidupnya bisa jadi lebih bahagia. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebahagiaan adalah pilihan, namun terjebak dalam pola dan kebiasaan lama.
"Takut terhadap perubahan membuat mereka berpura-pura kepada orang lain dan diri sendiri, bahwa jauh di dalam hati, mereka sangat ingin tertawa lebar akibat kekonyolan yang dialami dalam hidup," pungkas Ware.